Cinta Bisnis

Cinta Bisnis

Kalau mau cepat kaya itu berbisnis aja! Kata-kata itu sering saya dengar dimana-mana. Ada juga yang mengatakan dengan ekstrem “Kalau mau kaya jangan jadi PNS!”. Mereka mengatakan itu dengan keyakinan besar. Seakan-akan PNS tidak bisa memberi kita harapan lebih besar daripada berbisnis. Jika kita melihat contoh-contoh sepuluh orang terkaya di Indonesia saja, pernyataan di atas memang ada benarnya. Kebanyakan konglomerat bukanlah golongan PNS. Tapi saya tidak mengatakan semua konglomerat bukan PNS.  Sehingga banyak orang yang mencoba berbisnis dari yang kecil-kecilan sampai yang skala besar. Tapi banyak pula yang bertahan hanya seumur jagung.

Jumlah orang yang menyerah dalam berbisnis lebih banyak dibandingkan yang mau mempertahankan bisnisnya mati-matian. Suatu ketika ada seorang teman yang keinginan bisnisnya sangat besar, setiap kami ada waktu santai untuk mengobrol pasti tak lepas dari ide-ide kreatif untuk usaha. Saya bahkan yakin suatu saat dia akan menuai kesuksesan dalam berbisnis, entah apapun bentuk bisnisnya. Sampai pada suatu hari dia tak sabar lagi untuk merealisasikan ide-ide gilanya. Dengan sedikit perbincangan, akhirnya dia mendirikan sebuah toko sembako. Sebagai teman, saya juga tidak sabar melihatnya menggila di bisnis sembako.

Tapi, apa yang terjadi satu bulan kemudian tidak pernah terlintas di benak saya. Toko sembako teman saya tiba-tiba tutup tanpa alasan yang jelas. Semua barang-barang yang ada dikembalikan. Tentu saya penasaran dengan apa penyebabnya. Saya juga sempat menanyakan pada karyawannya. Jawabnya simple, ternyata teman saya tidak bisa menerima kenyataan karena tak ada pembeli yang berkerumun di toko seperti yang dibayangkan sebelumnya. Pembeli yang datang hanya satu orang setiap harinya. Sungguh miris baginya.

Dari cerita tersebut, saya sedikit kecewa sebenarnya. Mana ada toko sembako yang bisa langsung dapat antrian pelanggan seperti alfamart atau indomaret. Seorang juragan retail Sumatera bahkan pernah bercerita dia sampai harus rela menunggu pelanggannya selama satu tahun! Satu tahun? Iya, satu tahun baru dapat pelanggan tetap. Bandingkan dengan cerita yang awal tadi, gak usah ngomong satu tahun, satu bulan belum dapat keuntungan banyak langsung tutup. Duh, sayang banget.

Saya sendiri di bulan pertama jualan kopi omset melebihi target, bulan kedua turun, bulan ketiga anjlok hampir bangkrut, baru pada bulan kelima keuntungan berjalan lancar jaya. Mungkin ini juga berlaku pada bisnis kebanyakan. Walaupun tidak sama persis siklusnya. Yah, dari pengalaman itu saya bisa melihat bahwa bisnis seperti cinta, butuh belaian dan kesabaran. 🙂

 


No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.